Di antara kriteria pemeringkatan QS World University Rangkings 2013 adalah jumlah dosen dan mahasiswa asing yang masuk ke Indonesia, serta jumlah publikasi ilmiah akademisi Indonesia di jurnal internasional. Tiga hal itu ditengarai menyumbang andil dalam merosotnya peringkat Indonesia di daftar pemeringkatan tahun ini.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Djoko Santoso menilai, selain jumlah perguruan tinggi yang disurvei makin banyak, Indonesia masih lemah dalam semua "faktor asing" yang harus masuk ke Tanah Air.

"Coba saja lihat, dosen asing hampir enggak ada yang bisa kita undang karena bayarnya mahal. Mahasiswa asing juga belum banyak. Belum lagi karya publikasi kita di tingkat internasional masih kurang," papar Djoko kepada Okezone, Selasa (10/9/2013).

Selain itu, pendidikan tinggi Indonesia juga masih terganjal dari segi hukum dan perundang-undangan. Djoko menyebut, Indonesia tidak memiliki visa pelajar atau mahasiswa. Para pelajar internasional yang masuk ke Indonesia hanya menggunakan izin tinggal sementara, bukan visa pelajar.

"Sementara di negara lain ada visa pelajar, dan urusannya dipermudah. Katanya internasionalisasi, tapi kenyataannya kita belum internasional. Lha kalau pelajar asing susah masuk ke Indonesia, kita bisa apa?" imbuhnya.

Dalam QS World University Rankings 2013, peringkat kampus Indonesia turun drastis. Sebagian besar merosot hingga 100 peringkat. Padahal, kampus-kampus Asia mulai menunjukkan dirinya di kancah dunia.

Universitas Indonesia (UI), misalnya. Tahun ini hanya menempati peringkat 309+, padahal tahun lalu UI bercokol di peringkat ke-273. Institut Teknologi Bandung (ITB) "hanya" turun sekira 10 peringkat, yakni dari 451-500 (2012) ke 461-470 (2013). Sementara, peringkat Universitas Gadjah Mada (UGM) ngedrop 100 peringkat. Tahun ini UGM hanya sanggup berada di rangking 501-550 dari peringkat tahun lalu 401-450.

Penurunan 100 peringkat juga dialami Universitas Airlangga (Unair), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Brawijaya (UB). Kelima kampus itu menempatkan diri di peringkat 701+, padahal tahun lalu mereka berada di rangking 601+.

SUMBER